Resensi Buku : "Filosofi Teras" Filsafat dan Kesehatan Mental di Masa Kini

 

RESENSI BUKU

Judul Buku : Filosofi Teras

Penulis Buku : Henry Manampiring

Penerbit Buku : Kompas

Cetakan : Tahun 2018

Tebal : 346 halaman

 

    Buku Filosofi Teras adalah buku yang ditbuat oleh Henry Manampiring yang pada saat itu dikenal oleh teman-temannya sebagai seseorang yang penuh negative thinking. Lalu ia mencari bantuan dengan menemui seorang psikiater, dan padamasa pengobatan nya berjalan  ia menemukan buku How to Be a Stoic yang ditulis Massimo Pigliucci yang artinya kurang lebih bagaimana menerapkan filsafat stoa atau stoisisme dalam hidup. Hingga saat itu pengetahuannya tentang stoisisme sebatas cabang filsafat zaman Yunani dan Romawi kuno. Hal ini membuat matanya terbuka dan bahkan menemukan obat yang bisa diterapkan seumur hidup tanpa memakan biaya.

    Filosofi Teras sendiri juga adalah sebuah buku yang memperkenalkan filsafat Stoic/Stoa dalam Bahasa Indonesia, ditulis dengan gaya bahasa ringan tanpa menghilangkan substansi, dan juga dihiasi ilustrasi menarik karya Levina Lesmana, ilustrator muda berbakat. Buku ini adalah gabungan penjelasan topik-topik Stoicisme yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan sharing pengalaman pribadi mengaplikasikannya dalam kehidupan seorang Hanry Manampiring sehari-hari yang mengharapkan para pembacanya dapat mengaplikasikannya dalam kehidupannya. Buku-buku referensi Henry untuk menulis buku ini adalah buku-buku karya filsafat lama yang membuatnya berharap dapat membantu menyadarkan para pembaca bahwa Stoisisme sangat membantunya menjadi lebih tenang, damai, dan bisa mengendalikan emosi negatif, bahkan Henry sendiri sudah merasakan manfaat membaca buku-buku tentang Stoicisme ini. Ia menjadi tidak mudah stres dan marah-marah. Ia lalu kian melahap bacaan-bacaan tentang filsafat stoa lewat buku dan internet sambil meresapinya.

    Stoicisme adalah aliran/mashab filsafat Yunani-Romawi kuno (pada jamannya, selain Stoicisme ada aliran Epicureanisme, Cynicism, Skepticism, Neoplatonism), yang berkembang 2.300 SM – 200 M (kira2 500 tahun). Jadi kebayang kan tua-nya filsafat ini – lebih tua dari agama Kristen dan Islam. Stoicisme lahir di Yunani, dan kemudian berkembang di Romawi. Stoicisme redup ketika Kekaisaran Romawi resmi menganut agama Kristen. Beberapa filsuf Stoic: Epictetus (seorang mantan budak), Seneca (politisi di era Kaisar Nero), Marcus Aurelius (Kaisar baik hati, ada di film Gladiator di awal, atasan dari Russel Crowe!) Nelson Mandela konon membaca tulisan Stoic selama di penjara lebih dari 20 tahun sehingga ia bebas dari dendam kepada penindasnya. Mantan presiden AS Bill Clinton juga menempatkan buku Meditations karya Marcus Aurelius sebagai buku favoritnya.

    Disini saya akan sedikit mengulas ajaran Stoisme yang diajarkan dalam buku Filosofi Teras. Ajaran ini saya piih dari beberapa filosofi yang Henry Manampiring jelaskan dalam bukunya. Pertama tentang, dikotomi kendali, menurut saya ini adalah ajaran yang paling menarik dan bermanfaat, yaitu bagaimana kita bersikap dengan cara hanya memperhatikan apa yang ada dalam kendali kita dan tidak memikirkan apa yang diluar kendali kita. Dalam hidup, ada hal-hal yang di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita. Hal-hal yang di bawah kendali kita hanya beberapa (hanya pikiran, nalar, pertimbangan, perkataan, dan tindakan kita). Sisanya, tidak di bawah kendali kita, termasuk kekayaan, karir, reputasi, orang lain, sampai kesehatan kita.hal ini terdapat pada beberapa bagian di buku ini. Menurut Stoicisme, segala sumber bete, baper, galau, marah-marah itu karena kita menggantungkan kebahagiaan kita pada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita. Gimana mau happy jika hal-hal itu tidak di bawah kendali kita? Kunci kebahagiaan dan kebijaksanaan adalah ketika manusia hanya memikirkan dan peduli terhadap apa yang ada di dalam kendalinya, hal itu contohnya, pertimbangan, opini, keinginan, tujuan diri sendiri. Sedangkan sumber penderitaan adalah ketika manusia terlalu memikirkan segala hal yang diluar kendali kita seperti tindakan orang lain, opini orang lain, reputasi kita, kesehatan, kekayaaan, kondisi kita saat lahir. Kemudian timbul pertanyaan kenapa kesehatan, kekayaan masuk hal diluar kendali kita. Jika dipikir-pikir secara lebih seksama, yang namanya kekayaan, kesehatan bisa direbut atau terpengaruh orang lain. Misalnya kita ditipu atau kena hujan tiba-tiba lalu sakit, padahal kita sudah hati-hati dan menghindari hal tersebut, tapi tetap saja kejadian. Filosofi ini menawarkan untuk tetap tenang dan menerima apa saja hal yang diluar kendali kita dengan tenang, karena bagaimanapun hal buruk bisa saja menimpa kita kapanpun tanpa aba-aba.

    Lalu yang kedua ada “It is not things that disturb us, but our opinion about them”. Kita ini sebenarnya merasa sedih/kecewa/marah/stress bukan karena peristiwa hidup yang menimpa kita, tapi karena pendapat/opini kita mengenai peristiwa tersebut. Contohnya, dua karyawan perusahaan yang sama, dengan kondisi ekonomi yang sama-sama,  diPHK. Yang pertama depresi, marah-marah merasa dizholimi, yang satunya lagi santai dan terinspirasi mencari ide bisnis. Peristiwa eksternalnya sama, tapi interpretasinya bisa saja berbeda. Implikasinya:Bad news: Kita tidak bisa menyalahkan peristiwa eksternal untuk emosi kita. Tidak boleh bilang, “aku sedih/marah karena [peristiwa/orang lain]”. Emosi kita adalah tanggung-jawab kita, dan sepenuhnya di bawah kendali kita. Good news-nya: Jika emosi kita disebabkan oleh pikiran kita sendiri, artinya bisa dikendalikan pastinya, tidak perlu menunggu situasi hidup sesuai kemauan kita untuk bisa damai dan happy.

    Langkahnya, dalam buku ini dijelaskan dengan konsep S-T-A-R (Stop-Think & Asess-Respond). Stop, berhenti. Think, pikirkan dan assess berarti kasih nilai emosi tersebut. Respond sama dengan reaksi. Stop nilai emosi negatif yang timbul. Pikirkan dan nilai emosi tersebut, apakah rasional atau tidak. Lalu respond dengan bijak, adil, jangan kebawa emosi dan berani berbuat yang benar. Buku ini terdiri dari dua belas bab. Ada 'Survei Khwatir Nasional' (bab satu) garapan penulis buku sendiri. Ada menjadi orang tua dengan memakai prinsip Filsafat Stoisisme (bab sembilan). Juga ada Citizen of the Word (bab sepuluh), cara menjadi warga dunia di saat banyak hal yang di luar kendali kita. Juga ada tentang kematian membahas bagaimana cara memandang kematian (bab sebelas). Diceritakan bahwa filsuf beraliran Stoa bermain catur ketika hendak dieksekusi mati.

    Buku ini sangatlah cocok untuk mereka yang mau mengurangi emosi negatif. Jika para pembaca sudah capek baper, galau, khawatir, iri, dengki, dendam, pahit, dll. Informasi: Stoicisme menjadi inspirasi terapi psikologi yang disebut Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang berusaha melawan emosi negatif dengan rasional. Ada banyak argumen dan tips praktis yang bisa membantu para pembaca mengurangi emosi negatif. Mungkin juga ada beberapa pembaca yang sekedar berminat pada topik Filsafat dan Self-Improvement. “Filsafat” dan “Self Improvement” umumnya dianggap topik yang tidak nyambung, tapi di dalam Stoicisme, keduanya menyatu. Para filsuf Stoic dalam tulisan-tulisan klasik berkali-kali menegur mereka yang belajar filsafat tapi hidupnya tidak menjadi lebih baik.

    Yang dibahas oleh buku ini menurut saya yang cukup penting itu. Yang membedakan dari buku tentang ajaran filsafat stoisisme lainnya mungkin dibuku ini lebih dijelaskan dengan bahasa yang santai, terus di gunakan juga narasumber dari berbagai ahli psikologi influencer, anak muda berbakat, dan lain-lain untuk menunjang ajaran stoisisme. Penulis juga mencari atau memberikan contoh yang ada di masyarakat terutama generasi milenial.

    Menurut saya buku yang bergenre self improvement ini cukup bagus karena disajikan dengan bahasa yang asik, dan mudah dicerna. Hal itu juga karena memang ajaran filsafat yang disampaikan juga tidak terlalu berat dan lebih mengarahkan ke wejangan hidup. Buku ini menjadi pengantar yang bagus bagi orang yang tertarik dengan ajaran stoisisme. Tidak hanya bicara soal ajaran filsafatnya, Henry Manampiring juga menyajikan wawancara dengan psikiater, psikolog anak, serta beberapa orang yang telah memraktikkan stoisisme. Apa yang mereka sampaikan sangat memerkaya buku ini. Ilustrasinya juga bagus. Membuat buku ini terhindar dari beban buku filsafat yang berat.

0 Komentar